RSS

Download Conflict Vietnam PC Game

Conflict Vietnam
PC Game
347 MB

haunting depiction of a truly grisly war, Conflict: Vietnam is the next instalment in the multi-award winning Conflict series, which has to date, sold over 3.5 million copies worldwide.
Conflict: Vietnam follows the progress of four US soldiers, cut off from their unit and behind enemy lines during the 1968 Tet Offensive. Tasked with fighting their way back to friendly lines, they are faced with day-to-day survival in a hostile environment where the enemy could be hiding anywhere and everywhere. They are un-concerned with the course of the war but brutally aware as to the presence of the Viet Cong and of finding any way they can to survive.

Conflict Vietnam System Requirement
System: Pentium 2 GHZ or equivalent
RAM: 128 MB RAM
Video Memory: 128 MB VRAM
Hard Drive Space: 2500 MB

Download Here

http://hotfile.com/list/1793065/8c6464c

Password www.gamebazaar.info

 

Link Exchange FREE GAMES

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19/07/2011 in Link Exchange

 

PATIH GAJAH MADA

Patih Gajah Mada
Gajah Mada ialah salah satu Patih, kemudian Mahapatih, Majapahit yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Tidak diketahui sumber sejarah mengenai kapan dan dimana Gajah Mada lahir. Ia memulai karirnya di Majapahit sebagai bekel. Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta & Sadeng pun akhirnya takluk. Patih Gajah Mada kemudian diangkat secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi sebagai patih di Majapahit (1334).

Pada waktu pengangkatannya ia mengucapkan Sumpah Palapa, yakni ia baru akan menikmati palapa atau rempah-rempah yang diartikan kenikmatan duniawi jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton berikut [1]: “ Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa ”

(Gajah Mada sang Maha Patih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.)

Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Dalam Kidung Sunda[2] diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) bermula saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayahanda dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya.

Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh “Madakaripura” yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.

Disebutkan dalam Negarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah gering (sakit). Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi.

Hayam Wuruk kemudian memilih enam Mahamantri Agung, untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29/06/2011 in Tokoh

 

SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG SAUDARAKU SEMOGA TERLIMPAH BERKAH DAN KESEHATAN DARI

ALLAH SWT  (Amiin)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28/06/2011 in Uncategorized

 

KIAI NURIZAL

Kiai Nurizal : Makam di Tebing Sungai Serayu

Makam-makam kuna di Wonosobo memiliki daya tarik tinggi. Terbukti setiap hari, nyaris tak henti para peziarah datang. Mereka memiliki keyakinan, berdoa di makam para tokoh ini keinginan cepat terkabul. Salah satunya di makam Kyai Nurizal di Dusun Lempong Desa Kalierang Kecamatan Selomerto.

Tak sedikit peziarah yang datang dengan berbagai permintaan. Banyak pula yang terkabul saat berdoa di makam tersebut. Dusun Lempong Desa Kalierang tak begitu jauh dari Kota Wonosobo, sekitar 7 kilometer. Menuju makam dari Dusun Lempong harus melalui jalan setapak sekitar 500 meter.

Kyai Nurizal atau warga setempat menyebutkan Mbah Nurizal konon merupakan teman seperjuangan Tumenggung Jogonegoro dalam melawan penjajah. Dugaan cukup masuk akal. Antara makam Jogonegoro dan Mbah Nurizal lokasinya tak begitu jauh. Sama-sama berada di wilayah Kecamatan Selomerto.

‘Tumenggung Jogonegoro merupakan tokoh pemerintahan, sedangkan Mbah Nurizal alim ulama. Keduanya bahu-membahu dalam memajukan pemerintahan waktu itu,”papar Muhammad Muslim, tokoh masyarakat sekaligus juru kunci makam.

Mbah Nurizal, diketahui sebagai prajurit Keraton Jogjakarta yang tangguh. Saat berjuang, bersama Tumenggung Jogonegoro yang nama kecilnya Raden Ontokoesoemo dikejar-kejar oleh Belanda. Akhirnya sampai di Dusun Lempong menjadi tokoh penyebar agama Islam pertama kali. Sekaligus pendiri Dusun Lempong. Anak keturunannya juga menjadi ulama yang disegani.

“Mbah Nurizal dijuluki Karto Siluman, karena pintar mengecoh musuhnya. Kalau diburu hilang, lalu muncul lagi di tempat berbeda. Seperti siluman, sehingga musuhnya kuwalahan,”katanya.

Sayangnya tidak ada catatan pasti sekitar tahun berapa, Kyai Nurizal berada di Dusun Lempong. Tidak terdaftar pula silsilah keluarganya. Apakah masih ada keturunan dari bangsawan keraton Jogja atau tidak. Muhammad Muslim pun mengaku tidak mengetahui secara pasti, meskipun ia termasuk keturunannya. Menurut dia, Mbah Nurizal memiliki anak Kyai Ali Muhammad, menurunkan anak Ali Ibrahim. Kemudian berturut-turut Ali Mustar, Ali Rahmat, Muhammad Tarmudzi dan Muhammad Muslim sendiri.

Sebagai pendiri dusun, Kyai Nurizal mempunyai pengaruh ketokohan yang kuat. Tak heran, bila sekarang makamnya kerap diziarahi banyak orang. Mereka berasal dari berbagai kota. Seperti Magelang, Purworejo, Temanggung dan Parakan.

Dusun Lempong dapat dicapai dengan mudah dengan akses jalan cukup bagus, beraspal. Yang menjadi kendala adalah jalan menuju makam Kyai Nurizal. Makam ini terletak di atas Sungai Serayu, di pinggir saluran irigasi besar. Tidak bercampur dengan makam warga setempat.

Namun berada dalam satu kompleks pemakaman keluarga. Terdiri dari sejumlah makam kuna yang tidak diketahui satu per satu siapa saja yang disemayamkan di situ. Makam Mbah Nurizal sendiri dibangun kijing baru. Dikatakan Muslim, pembangunan kijing belum lama.

“Inisiatif dari salah seorang peziarah. Karena doanya terkabul, ia bermaksud membangun makam. Saya sendiri sebagai anak keturunannya tidak berani karena biasanya, tokoh-tokoh semacam itu makamnya tak mau dibangun. Tapi karena ini permintaan peziarah, saya tidak kuasa menolak,”tuturnya.

Seperti halnya makam-makam yang lain, terdapat pohon besar yang menaungi peristirahatan terakhir. Sebuah pohon gintung besar tumbuh di pinggir makam. Tepat di bawahnya, terdapat makam Kyai Ali Rahmat. Getah pohon gintung kata Muslim, berkasiat sebagai perekat atau lem. Bila ada kitab-kitab kuna atau Alquran lepas, dilem dengan getah gintung melekat kuat.

Pemandangan alami disuguhkan di depan makam. Di bawahnya Sungai Serayu yang berair deras, pinggirnya pohon-pohon kelapa melambai. Terhampar tanaman padi menghijau terasering. Berada di makam terasa sangat sejuk. Lelah perjalanan, sirna dihembus semilir angin.

Banyak Godaan, Keinginan Terkabul

Para peziarah yang datang ke makam Mbah Nurizal memiliki keinginan bermacam-macam. Naik jabatan, pangkat maupun usahanya lancar. Ditegaskan Muhammad Muslim, para peziarah dilarang menyembah makam atau meminta pada Mbah Nurizal.

“Berdoa tetap pada Allah SWT tidak boleh meminta apapun pada Mbah Nurizal. Makam itu hanya sebagai wasilah,”tegasnya.
Banyak peziarah yang mengaku mendapatkan firasat setelah beberapa kali berdoa di makam. Disebutkan bapak beranak 9 itu, ada seorang kyai terkenal yang sebelumnya tidak bisa berdakwah. Selama 3 hari berturut-turut berdoa di makam. Esoknya menemukan sarang burung berisi telur-telur. Anehnya, sarang itu berada di ranting pohon yang sangat rendah. Sungguh tidak masuk akal. Sarang tersebut tidak diambilnya. Paginya, ketika dia kembali ke makam, telur-telur itu telah menetas, ternyata burung kutilang.

“Hari terakhir datang ke makam, sarang burung telah lenyap. Itu sebuah pertanda, bahwa orang itu akan menjadi seorang mubalik. Orang yang banyak omong, suka memberi ceramah. Seperti burung kutilang yang suka ngoceh. Sampai sekarang dia menjadi mubalik yang terkenal,”jelasnya.

Pada malam Jumat biasanya banyak peziarah datang. Menjelang pilihan kepala desa ini, makam kerap didatangi. Bahkan calon-calon bupati Wonosobo dulu pernah juga berziarah.

Semakin banyak godaan, kata Muslim, keinginan bakal cepat terkabul. Tidak sedikit yang mengalami berbagai peristiwa selama berziarah. Seperti melihat harimau, suara anjing melolong. Kadang-kadang peziarah mendengar bisikan lirih di kupingnya.

“Kalau mulai digoda hal-hal gaib seperti itu, pertanda bakal cepat tercapai cita-citanya. Tapi kalau hanya biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, harus sabar. Firasat itu kadang lewat mimpi,”ceritanya.

Bahkan, tambahnya, sekitar tahun 1970-an, tidak ada gempa, tak ada angin, para peziarah merasakan makam bergoyang hebat. Tapi tidak menimbulkan korban. Karena itu hanya perasaan masing-masing peziarah. Malam hari, suasana di makam lebih sunyi, dan tintrim. Justru itulah saat yang tepat berdoa khusuk pada Tuhan. (lis Jawa Pos)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27/06/2011 in Tokoh

 

KYAI WALIK

Kyai Walik

Saksi Masjid Tertua Di Kota Wonosobo
Kota Wonosobo berdiri konon berkat jasa tiga tokoh berpengaruh kala itu. Kiai Kolodete, Kiai Karim dan Kiai Walik. Ketiganya merintis kawasan yang semula hutan belantara menjadi pemukiman. Bersama sanak keluarga mereka bahu-membahu membabat hutan, mengubah menjadi ladang pertanian. Masing-masing memiliki peran yang berlainan. Kiai Walik sebagai perancang kota, Kiai Karim peletak dasar-dasar pemerintahan. Sedangkan Kiai Kolodete membuka wilayah di kawasan Dieng.

Kiai Walik dianggap paling dekat di hati rakyat. Figur pemimpin yang merakyat, disukai sekaligus disegani pada zamannya. Namun ketiga tokoh itu menjalin hubungan yang erat. Kiai Walik tinggal di kawasan Wonosobo. Konon, sebelum meninggal dunia pada hari Kamis, Kiai Walik mengatakan bahwa di tempat ditumbuhi pohon bambu kelak akan menjadi tempat luas. Menggambarkan kewibawaan negara, juga menggambarkan perbuataan buruk manusia. Ternyata ramalan tersebut ada benarnya. Kini di tempat yang ditunjuk Kiai Walik berdiri masjid, alun-alun dan lembaga pemasyarakatan.

Diyakini masyarakat, makam tokoh terkenal itu berada di belakang Masjid Al Manshur Kauman. Sebelumnya tidak diketahui bila di belakang masjid terdapat makam Kiai Walik.

“Dulu hanya dipercaya sebagai pekaringan atau tempat berjemur para wali. Kemudian KH Chabib Lutfi mengatakan kalau pekaringan itu adalah makam Kiai Walik. Itu dikatakan tanggal 27 Juli 1996 lalu,”ujar iImam Masjid Al Manshur KH Haidar Idris.

Banyak versi berkembang di masyarakat soal makam Kiai Walik. Ada yang mengatakan makam Kiai Walik berada di dalam penjara kompleks lembaga pemasyarakatan.

Karena dulu meninggal sewaktu ditahan kolonial Belanda. Ditambahkan KH Chabib, banyak versi mengenai keberadaan Kiai Walik ini.

“Pernah ada orang dari Kasunanan Surakarta datang ke masjid ini untuk salat. Dia cerita kalau mencari makam Kiai Wonosobo. Diceritakan kalau di belakang masjid ada makam kuno. Dia lalu berziarah. Katanya, yang dimakamkan tersebut adalah Kiai Wonosobo yang dicarinya itu,”tambahnya.

KH Haidar pernah bertanya pada beberapa alim ulama nama sebenarnya dari Kiai Walik itu. Dikatakan seorang ulama tafsir Surabaya Kiai Walik bernama Abdul Kholiq. Sedangkan menurut KH Chabib Lutfi bernama Ustman bin Yahya. Ada juga yang mengatakan Abdul Khaqam. Kiai Walik asli Yaman, datang pertama kali ke Indonesia di Kudus di rumah Sunan Kudus. Setelah 4 tahun di Kota Kretek, ia diajak Sunan Kalijaga berdakwah. Sunan Kalijaga ke Jawa Tengah selatan, sampai di Mataram. Sedangkan Kiai Walik ke Wonosobo. Di situ ia mendirikan masjid yang letaknya di sebelah selatan barat kota. Kini masjid tersebut sudah tidak ditemukan lagi. Para peziarah dulu, tambahnya, banyak yang datang sambil membawa makanan dan membakar kemenyan. Mereka meminta agar ziarah yang dilakukan itu membawa berkah.

Peziarah membaca yasinan dilanjutkan berdoa. Selain dari Wonosobo, para peziarah datang dari luar kota. Mereka meyakini berdoa di makam tersebut akan mendatangkan berkah.

Setelah mengikuti pengajian tiap hari Sabtu di Masjid Al Manshur, masyarakat berziarah ke makam Kiai Walik. Di masjid yang konon tertua di Wonosobo itu memiliki tradisi pengajian tiap hari Sabtu, disebut setonan.

Jamaahnya setiap waktu terus bertambah. Masjid Al Manshur selalu penuh sesak. Dalam satu kesempatan pengajian jamaahnya minimal 1500 orang. Selain itu, Masjid Al Manshur juga menjadi pathokan waktu salat. Banyak orang datang untuk mencocokkan jam. Terdapat bencet atau jam matahari yang menjadi pathokan waktu salat.

Masjid Al Manshur terdiri dari dua ruang besar. Memasuki masjid tampak bangunan kuno dengan tiang-tiang kayu tinggi yang dihiasai ukir-ukiran. Tidak ada kesan mewah, namun memasuki ruangan masjid, terasa adem, sejuk dan nyaman. Di sebelah kanan bangunan utama masjid, berderet ruang-ruang kelas sekolah dan pondok pesantren.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 27/06/2011 in Tokoh

 

KI KOLODETE

Ki Kolodete 

 

Gunung Kendil: Tampak Pekaringan Kyai Kolodete diatas bukit

Keindahan panorama dan nilai-nilai magis spiritual. Paduan dua hal itulah yang membuat Dataran Tinggi Dieng memikat wisatawan. Bagi yang ingin menikmati eloknya indahnya pemandangan, ada Telaga Warna, Telaga Pengilon, kelompok candi Hindu, Kawah Sikidang dan banyak obyek lainnya. Sedangkan bagi yang ingin berwisata spiritual, Dieng gudangnya. Salah satunya adalah pekaringan Kolodete yang terletak di Gunung Kendil.

Berbicara Wonosobo tak lepas dari 3 tokoh yang diyakini sebagai pendirinya. Kyai Walik, Kyai Karim dan Kyai Kolodete. Wonosobo pada abad 17, masih hamparan hutan. Tiga tokoh tersebut bersama keluarganya berkelana sampai di belantara Wonosobo. Lantas, hutan lebat ditebang dijadikan perkampungan penduduk, lahan pertanian, dan ladang sebagai sumber penghidupan.

Kyai Walik dianggap sebagai tokoh perancang kota, Kyai Karim peletak dasar-dasar pemerintahan. Ketiga tokoh itu menjalin kerjasama yang erat, saling mendukung dan melengkapi demi memajukan perkampungan Wonosobo.

Di kalangan penduduk Wonosobo bagian utara terutama di Kecamatan Garung, Kejajar hingga Dataran Tinggi Dieng, Kyai Kolodete diyakini sebagai penguasa atau disebut merkayangan.

Di Gunung Kendil inilah terdapat pekaringan Kyai Kolodete dan istrinya. Pekaringan dari kata “karing” atau tempat berjemur. Dieng terletak di ketinggian 2093 meter di atas permukaan laut. Udara dingin memunculkan kebiasaan masyarakat berjemur pagi hari di bawah matahari. Pekaringan Kolodete diduga menjadi tempat untuk berjemur kyai yang konon memiliki rambut gembel itu.

Bahkan menurut cerita, di tempat itu pula Kyai Kolodete moksa atau sirna tak diketahui rimbanya. Namun di tempat tersebut tidak terdapat makam. Hanya bangunan beratap dengan tembok separuh. Pekaringan Kolodete ramai dikunjungi wisatawan. Baik dari dalam maupun luar kota. Mulai dari rakyat jelata hingga pejabat. Konon, berdoa atau ngalap berkah di tempat tinggi itu, banyak terkabulnya.

“Pekaringan Kolodete itu ditemukan melalui proses meditasi oleh para penghayat kepercayaan. Prosesnya cukup lama. Berkali-kali meditasi, akhirnya para penghayat kepercayaan mendapat petunjuk. Di Gunung Kendil inilah salah satu tempat pekaringan Kyai Kolodete,”papar Bambang Sutejo, S.Kar.

Di mana letak pekaringan ini? Masih seputar kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tak begitu jauh dengan Telaga Warna maupun Dieng Plateu Theater. Jalan masuknya searah dengan Dieng Plateu Theater. Pekaringan Kolodete dan istrinya Nini Dewi Laras berdekatan. Namun pengunjung harus jalan kaki sekitar 30-45 menit dari bawah. Diceritakan juru kunci Pekaringan Kolodete, di tempat tersebut dibangun cungkup atau rumah-rumahan. Persis di atas bukit Kendil.

“Tahun 1999, orang dari Indramayu datang memberitahu agar membangun gubug atau rumah kecil di atas pekaringan Kolodete. Sementara saya belum tahu di mana lokasinya. Setahun kemudian saya melakukan meditasi di atas Gunung Kendil selama sehari. Dari situ saya mendapatkan petunjuk, pekaringannya di atas gunung itu,”kata Rusmanto menceritakan awal mulanya dibangun cungkup di atas Gunung Kendil.

Pada tahun 2001, Rusmanto membangun rumah kecil di pekaringan itu. Diakui dia, pembangunan rumah itu atas iuran para penghayat kepercayaan termasuk Rusmanto sendiri. Di tempat tersebut disediakan 2 tempayan besar berisi air dari Tuk Bimo Lukar dan Gua Sumur.

Perjalanan dari Dieng Plateu Theater sampai ke atas bukit Kendil memakan waktu sekitar 30-45 menit cukup menguras tenaga. Sebab, jalanan menanjak. Namun jangan khawatir begitu sampai di atas bukit, lalu cuci muka dengan air Gua Sumur dan Tuk Bimo Lukar, seketika itu juga, kelelahan sirna. Kesegaran baru datang. Ini bukan sekedar mitos atau omong kosong.

“Saya merasakan sendiri. Naik bukit tentu saja badan capek. Begitu membasuh muka dan cuci tangan, rasanya segar. Penat hilang. Yang ada hanya perasaan pasrah sumarah. Melihat pemandangan sekeliling yang sangat indah,”tambah Bambang Sutejo.

Pekaringan Kolodete ini menjadi salah satu tempat yang menarik perhatian pengunjung. Mereka tidak hanya dari Wonosobo. Tidak sedikit yang datang Jakarta, Bekasi, Bandung, Surabaya, Semarang dan kota-kota besar lainnya. Bahkan Gubernur Bali sudah beberapa kali mengunjungi pekaringan Kolodete ini.

Apa yang menarik dari tempat tersebut? Konon, berdoa di tempat tersebut, cepat terkabul. Banyak yang sudah membuktikannya. Bambang mengakui dalam satu kesempatan dia bersama rombongan berkunjung ke pekaringan di Gunung Kendil.

Di tempat tersebut, masing-masing berdoa sesuai keinginannya. Ada dua orang yang belum menikah. Lantas berdoa khusuk di tempat tersebut.

“Tentu saja berdoa kepada Tuhan yang memberi hidup. Beberapa bulan kemudian, dua orang perempuan lajang ini dilamar orang. Saya rasa ini suatu keajaiban. Meski demikian, kita yang memiliki keinginan harus ada usaha. Jadi ada doa dan ikhtiar sehingga keinginan bisa terwujud,”papar pria yang juga seorang dalang itu mantap.

Keistimewaan lain adalah pemandangan yang luar biasa indah. Dari atas Gunung Kendil pemandangan kota-kota di Jawa Tengah yang jaraknya ratusan kilometer terlihat indah. Apalagi pada malam hari, lampu kerlip-kerlip terhampar laksana emas berlian yang bersinar terang.

Dari atas ketinggian itu, muncul pengalaman spiritual yang luar biasa. Perasaan sebagai makhluk Tuhan yang tidak memiliki kuasa apapun dibandingkan Sang Pencipta, menumpuk di dada. Tak heran, bila pekaringan Kolodete ini menjadi tempat favorit untuk mendekatkan diri pada pencipta. Wajar pula, bila para tokoh dan pejabat tidak menyia-nyiakan kesempatan berkunjung ke tempat tersebut.

Pengunjung biasanya diantarkan oleh Rusmanto. Sang juru kunci inilah yang membuka doa, memintakan izin pada Kyai Kolodete tentang maksud kedatangan tamunya. Mengunjungi pekaringan Kolodete ini harus suci baik jiwa maupun raga.

Dituturkan Rusmanto, para pengunjung tidak boleh sombong maupun takabur. Harus selalu rendah hati. Kadangkala, pada saat itu juga ditunjukkan kelemahannya sebagai manusia. Badan yang besar, belum tentu kuat memanjat sampai di atas bukit Kendil.

Budaya Jawa yang adiluhung menarik minat kalangan akademisi.Sejumlah peneliti dari Universitas Leiden Belanda dan Universitas Gajahmada bertandang ke pekaringan Kyai Kolodete.

“Mereka melakukan penelitian tentang budaya Jawa. Saya mengantarkan ke pekaringan,”tandasnya kepada Radar Semarang.

Rambut Gembel Titipan

Masyarakat seputar Dieng, sangat menghormati leluhurnya. Ritual-ritual tertentu kerap diadakan. Rusmanto, mengaku setiap malam Senin dan Kamis Wage mengadakan kegiatan ritual di pegunungan Dieng untuk menghormati leluhur atau nenek moyangnya. Termasuk Kyai Kolodete. Berbagai ritual itu tujuannya hanya satu untuk meminta berkah, rahmat dan keselamatan bagi masyarakat.

Kyai Kolodete dipercaya sebagai leluhur sekaligus penguasa Dataran Tinggi Dieng. Semasa kecilnya, Kolodete berambut gembel. Dialah yang mewariskan rambut gembel pada anak-anak di seputar Dieng. Menurut mitosnya, lantaran rambut gembelnya begitu mengganggu, sebelum meninggal Kyai Kolodete berpesan agar anak cucunya membantu dalam menghadapi gangguan rambut itu. Sehingga diwariskan rambut gembelnya pada anak-anak.

Ritual rambut gembel ini salah satu daya tarik wisata Wonosobo. Tidak sembarangan asal mencukur. Tetapi harus menyediakan permintaan dari anak berambut gembel. Bila permintaan tak dipenuhi, meski rambutnya sudah dicukur, akan tumbuh gembel lagi. (oleh :lis Jawa Pos ,Foto : Jatiningjati dan Humas Setda Kab.Wonosobo)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27/06/2011 in Tokoh